Nikmatnya Rasa Durian Khas Hutan Borneo

Durian (Durio Zibethinus)
Durio Zibethinus, jenis durian yang banyak dtemukan di pasaran.

Aneka durian khas hutan Borneo. Raja dari segala buah –‘King of Fruits’ , itulah  julukan yang diberikan kepada buah yang satu ini. Daging buahnya memiliki rasa manis yang khas, hingga ia digemari oleh banyak orang. Meski di sisi lain banyak yang tak menyukainya lantaran baunya yang begitu menyengat. Yap buah itu adalah buah durian.

Durian yang biasa kita kenal adalah durian dengan ciri-ciri sebagai berikut; Kulit buahnya keras dan berlekuk-lekuk seperti duri, ukurannya besar dengan diameter sampai 20 cm, daging buahnya lunak dengan warna putih dan ada yang kuning terang. Durian jenis ini bernama ilmiah Durio zibethinus.

Selain Durio zibethinus, ternyata ada jenis durian lainnya. Beberapa diantaranya tumbuh di hutan Borneo atau hutan Kalimantan. Seperti apa ya bentuk dan rasanya? Biar tidak penasaran, yuk baca ulasan dari Tim Sansivera Garden berikut ini!

Durian Kura-Kura (Durio testudinarium)

Keunikan dari durian kura-kura ini adalah buahnya yang hanya tumbuh di pangkal batang (batang bagian bawah) saja. Secara fisik durian kura-kura hampir sama dengan durian biasanya. Buahnya berukuran kecil, sekecil sukun. Daging buahnya berwarna putih atau kekuningan. Buahnya berasa manis meski belum terlalu matang. Baunya begitu menyengat sehingga dapat mengganggu penciuman.

Terus kenapa namanya durian kura-kura? Apakah ada hubungannya dengan kura-kura?

Testudinarium sendiri berasal dari bahasa latin yaitu ‘tetsudo’ yang artinya kura-kura. Masyarakat setempat (Kalimantan) juga menyebutnya sebagai durian kura-kura. Alasan dibalik pemberian nama tersebut belum bisa dipastikan kejelasannya. Hanya saja ada anggapan yang menyatakan bahwa buahnya yang tumbuh begitu rendah membuat seekor kura-kura pun dapat memetiknya dengan mudah.

Pekawai (Durio kutejenis)

Pekawai (Durio kutejenis)

Pekawai memiliki beberapa sebutan diantaranya likul (Kalsel), pampaken
(Kalteng), Lai (Kaltim) atau durian pulu (Brunei).Pekawai atau hampaken sendiri merupakan nama yang dipakai oleh masyarakat Kalimantan Barat.

Pekawai memiliki bentuk hampir sama dengan durian biasanya (Durio zibethinus). Hanya saja buah pekawai lebih kecil dan ujungnya agak bengkok dan lunak. Bentuk buahnya bulat, tidak lonjong seperti Durio zibethinus.

Pekawai memiliki aroma yang lembut dibandingkan jenis durian yang lainnya (Durio zibethinus dan Durio testudinarium). Hal ini dikarenakan kandungan alkohol yang dimiliki oleh pekawai lebih sedikit. Daging buahnya berwarna atratktif kuning-oranye atau kuning kemerahan dan bertekstur pulen-kering. Rasanya manis dan daya simpannya lama, yaitu 10 hari sejak jatuh dari pohon.

Tempasi (Durio dulcis)

Tempasi (Durio dulcis)

Pembeda utama tempasi dengan durian lainnya terletak pada kulitnya yang berwarna merah kehitaman. Tempasi merupakan jenis durian yang paling
manis diantara jenis durian lainnya. Maka sangat pantas jika dalam bahasa ilmiah ia disebut Durio dulcis. Dulcis artinya manis.

Kulit buahnya sangat tebal, menjadikan tempasi susah dibuka. Sehingga untuk membukanya harus dipotong melintang atau dibelah menggunakan parang. Daging buahnya meski sedikit tapi tetap tebal, berwarna kuning, teksturnya lembek-halus, sedikit berair, dan berlemak. Aromanya kuat dan tajam. Bijinya berwana cokelat-hitam dan mengkilap.

Itulah tiga jenis durian eksotik khas hutan Borneo yang berhasil dihimpun oleh Tim Sansivera Garden. Sampai saat ini, ketiga jenis durian tersebut belum dibudidayakan secara massal. Agar dapat memetik buahnya langsung dari pohon kita perlu masuk jauh ke dalam hutan. So, kamu tertarik untuk berkunjung ke hutan rimba di Borneo demi menikmati durian-durian tersebut langsung dari pohonnya? . Jika ada kesempatan rasanya patut dicoba guys. ^_^

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*